Tampilkan postingan dengan label ideologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ideologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 13, 2009

Berpolitik Bagian Dari Dakwah

Oleh: Tim dakwatuna.com



dakwatuna.com - Allah SWT. telah menurunkan Risalah terakhir yang merangkum seluruh risalah nabi-nabi sebelumnya. Risalah yang bersifat “syaamilah mutakaamilah” (komprehensif dan integral). Risalah yang tidak ada satupun dimensi kehidupan kecuali ia mengaturnya secara sistemik baik secara global maupun secara spesifik. Oleh karenanya, Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah:208)

“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu.” (Al-Maidah:48)

Risalah Islam ini sesungguhnya “Risalah Nabawiyah” yang terakhir yang sengaja diturunkan sebagai “way of life” (cara hidup) bagi seluruh manusia. Oleh karenanya ia bicara tentang seluruh dimensi kehidupan manusia. Baik dimensi aqidah, ibadah maupun dimensi akhlak. Dan yang termasuk dalam tiga dimensi ini adalah masalah ekonomi, sosial budaya, politik dan keamanan. Di sini, tidak boleh ada yang melakukan dikotomi dalam ajaran Islam. Tidak ada yang mengatakan: “Islam Yes, Politik No”, dan tidak ada lagi yang mengatakan: “Dakwah Yes, Politik No”. atau mengatakan: “Yang penting adalah aqidah, yang lain nggak penting.”

Selanjutnya bagaimana kita memiliki pemahaman yang komprehensif ini dan memperjuangkannya dalam kehidupan kita. Yang akhirnya lahirlah pencerahan dan perbaikan dalam dunia ekonomi, sosial budaya, politik dan keamanan yang berimpact kepada kebaikan dan maslahat umat.

Tarbiyah Siyasiyah

Tarbiyah siyasiah yang bermakna pendidikan atau pembinaan politik adalah sangat urgent dipahami oleh setiap muslim. Karena pemahaman politik yang sejatinya, tidak sama dengan pemahaman selama ini dalam ilmu politik secara umum, yaitu berpolitik yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Akan tetapi kita berpartisipasi dalam politik untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran ilahiah dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Berkuasa untuk melayani umat, dan memimpin untuk memperbaiki sistem yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.

Oleh karenanya, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan gerakan berpartai dan berpolitik, disebut dengan “Jihad Siyasi” (Perjuangan Politik). Dalam bahasa Imam Hasan Al-Banna, perjuangan ini dikatagorikan dalam marhalah “rukun amal” yang disebut “Ishlahul Hukumah” (Perbaikan Pemerintahan).

Keberhasilan dan kesuksesan berpolitik atau jihad siyasi harus berimpact kepada dimensi kehidupan yang lain. Harus berimpact kepada dunia pendidikan dan dakwah. Yang berujung kepada pencerdasan anak bangsa dan pencetakan generasi rabbani. Harus berimpact kepada dunia ekonomi dan sosial budaya. Yang berakhir kepada pemeliharaan aset-aset negara dan pendayagunaan kepada masyarakat yang lebih luas. Begitu juga mampu memelihara identitas atau jati diri bangsa yang bertumpu pada pondasi spirituil dalam aspek sosial budaya.

Seruan dan anjuran kepada umat Islam untuk kembali ke barak atau ke dunia dakwah saja dengan pemahaman yang sempit, karena alasan bahwa dunia politik adalah dunia “rawan dan beranjau”, dunia yang sarat dengan kebohongan, ketidak jujuran, khianat, gunjing-menggunjing, halal menjadi haram, haram menjadi halal, atau menyetujui demokrasi yang merupakan produk Barat, adalah sebuah seruan kemunduran dalam berdakwah. Bukankah seruan ini seperti orang yang mengatakan dulu: “Islam Yes, Politik No”. Sebuah adigium yang dulu merupakan musuh bersama umat Islam dan da’i yang mengajak kembali manusia kepada Islam secara kaffah atau komprehensif.

Dan bila ada sebagian kader yang tergelincir dan terjerumus dalam permainan sistem yang destruktif negatif, maka tugas umat, organisasi massa Islam atau organisasi politik Islam untuk menyiapkan sarana dan prasarana agar setiap yang terjun ke dunia politik tetap istiqamah dalam menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya dan tetap menjaga integritas diri.

Baina Ad-Dakwah Was Siyasah

Apakah ada pertentangan antara dakwah dan siyasah atau politik?. Jawaban pertanyaan ini akan menyelesaikan kerisauan dan kegamangan kita dalam melakukan kerja-kerja dakwah selanjutnya yang bersinggungan dengan dunia politik dan langkah meraih kemenangan “Jihad Siyasi” dalam perhelatan pemilihan wakil-wakil rakyat dan pemimpin negeri ini.

Ayat di atas dan pengertian Islam yang didefinisikan oleh Imam Hasan Al-Banna di bawah ini adalah dalil yang menunjukkan tentang titik temunya amal da’awi dan amal siyasi dalam bingkai keislaman. Jadi tidak ada samasekali pertentangan antara dunia Dakwah dengan dunia Politik. Coba kita renungkan pernyataan Beliau dalam “Risalatut Ta’lim”:

الإسلامُ نِظَامٌ شَامِلٌ يَتَنَاوَلُ مَظَاهِرَ الحَيَاةِ جَمِيْعًا فهو دَوْلَةٌ وَوَطَنٌ أَوْ حُكَُوْمَةٌ وَأُمَّةٌ، وَهُوَ خُلُقٌ وَقَوَّةٌ أَوْ رَحْمَةٌ وَعَدَالَةٌ، وَهُوَ ثَقَافَةٌ وَقَانُوْنٌ أَوْ عِلْمٌ وَقَضَاءٌ، وَهُوَ مَادَّةٌ وَثَرْوَةٌ أَوْ كَسْبٌ وَغَِنىً، وَهُوَ جِهَادٌ وَدَعْوَةٌ أَوْ جَيْشٌ وَفِكْرَةٌ، كَمَا هُوَ عَقِيْدَةٌ صَادِقَةٌ وَعِباَدَةٌ صَحِيْحَةٌ سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ

“Islam adalah nidzam (aturan) komprehensif yang memuat seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah daulah dan tanah air atau pemerintahan dan ummat, ia adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Ia adalah tsaqafah (wawasan) dan qanun (perundang-undangan) atau keilmuan dan peradilan, ia adalah materi dan kesejahteraan atau profesi dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah atau militer dan fikrah, sebagaimana ia adalah aqidah yang benar dan ibadah yang shahih ( benar).”

Dakwah yang bertujuan menyeru manusia untuk kembali kepada nilai-nilai Islam secara komprehensif bisa dilakukan oleh kader di manapun ia berada dan apapun profesinya. Apakah ia seorang ekonom, pengusaha, pendidik, teknokrat, birokrat, petani, buruh, politikus (aleg) dan eksekutif (menetri) bahkan seorang presiden sekalipun. Jadi dakwah bukan suatu yang antagonis dengan dunia politik, akan tetapi dunia politik merupakan salah satu lahan dakwah.

Semoga tulisan singkat ini mampu memberi energi baru dan gelora semangat bagi kita umat Islam untuk menguatkan persatuan dan kesatuan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, yang diridhoi Allah swt. menuju “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.” Allahu Akbar Walillahi alhamdu.

Minggu, Mei 10, 2009

“Berikan Dulu Hak Kami, Maka Kami Boleh Kau Atur”

hanya sebuah pemikiran

Pernah suatu ketika aku terlibat percakapan dengan seorang tukang becak di depan gerbang kampusku,
“Bang, nggak ashar?”
“Hehe..” Abang Becak malah tersenyum, “Takut nggak dapat penumpang mas”, sambungnya.
“Oohh…”, mulutku membulat, tanda memaklumi.
Sekiranya aku banyak uang mungkin akan aku berikan sebagian kepadanya untuk meninggalkan becaknya sebentar dan sholat sejenak. Agar sejenak ia mengaplikasikan identitasnya, mengejawantahkan imannya. Kini aku tak tega mendebatnya dengan logika nash tentang rizki.

Mungkin tak beda jika logika kristenisasi memakai fenomena tersebut. Selama sekian waktu ada jaminan kehidupan, asal yang bersangkutan datang saja ke gereja. Ikut ‘ngaji’ disana.
Maka kefakiran lebih dekat kepada kekafiran menjadi sebuah hal yang hampir menjadi sebuah aksioma.

Ini menjadi semacam pekerjaan rumah bagi gerakan islam. Terutama mereka yang berada pada ranah politik.
Publik melihat gerakan islam sebagai kumpulan orang-orang yang sholeh, itu benar. Namun untuk melihat gerakan islam bisa mengurusi hajat hidup orang banyak dengan menentukan kebijakan pemerintahan, nanti dulu, publik masih setengah hati. Disamping nalar apatisme yang merebak di kalangan bawah, gerakan islam memang masih belum mampu menunjukan kapasitasnya. Kapasitas yang harusnya lebih besar dari apa yang kini dicapainya.

Dalam tataran ideologi, fakta empiris dan aksiomatik telah menunjukkan besaran kapasitas ideologi gerakan islam. Meski kata Hasan Al-Banna, ummat ini masih memiliki dua iman. Pertama, iman yang tertidur lelap, dan kedua iman yang mengubah, bergerak dan menggerakkan. Iman yang kedua inilah yang dibutuhkan bagi gerakan islam sekarang.
Pada ranah retorika, kalangan pemuka Islam mungkin mampu membangunkan khalayak bahwa sistem islam adalah yang terbaik, itu benar. Tapi bukankah sistem hanyalah sebatas sistem jika pelakunya masih saja tidak mampu menggerakkan sistem tersebut.

Jadi sudah dua bekal sebenarnya yang dimiliki oleh gerakan islam. Pertama adalah kepercayaan masyarakat terhadap individu. Sedangkan yang kedua adalah sejarah emas para founding father ideologi tersebut. Rasulullah saw dan Khulafaurrasyidin.

Untuk menjembatani akan wajah cerah Islam dengan kondisi ummat yang memprihatinkan, dibutuhkan sebuah masivitas kefahaman bahwa gerakan islam harus mampu menentukan kebijakan sendiri bagi ummat. Merealisasikan ide-ide besar mereka tentang peradaban yang mulia. Kalau tidak ikut serta dalam pemerintahan, lalu bagaimana lagi? Dari mana ummat tahu kalau sistem islam adalah terbaik kalau masih sebatas retorika di seminar dan lokakarya?

Kekuasaan dan kejayaan di tangan individu yang sholeh saja tidak cukup, maka diperlukan orang-orang sholeh yang juga negarawan. Istilah anak-anak KAMMI adalah muslim negarawan. Seorang muslim yang mempunyai kafa’ah dalam mengelola Negara.
Kepemimpinan di tangan gerakan islam setidaknya bisa menjembatani akan kefahaman ummat tentang Negara madinah yang pernah dibangun oleh Rasulullah Saw, dan tentang kesejahteraan yang pernah ummat terdahulu rasakan kala kekuasaan Negara tersebut, dengan realita yang sedang dibangun perlahan lewat genggaman daulah saat ini.

Ketika tampuk kepemimpinan sudah di tangan, maka tugas selanjutnya adalah memaknai hadits ‘sayyidul qaum khadimuhum’ serta mengaplikasikannya. Pemimpin adalah pelayan kaumnya. Seseorang yang paling banyak diberi fasilitas ternyata adalah seorang pelayan dalam kacamata islam. Pelayan dalam artian bahwa tugasnya adalah mencukupi kebutuhan rakyat, atau setidaknya sedang ada arah kesana. Setelahnya baru kemudian menyeru tentang nilai-nilai islam untuk bersama ummat mengaplikasikannya.

Dalam surat Al-Balad ayat 12-18, ada sebuah urutan yang menarik. Ini ditafsirkan oleh Salim Akhukum Fillah persis dengan kronologi diatas.
Jadi, sebelum saling berpesan dalam kesabaran dan kasih sayang dan mendapat predikat sebagai orang-orang yang beriman, ada beberapa hal yang harus ditempuh. Perbuatan melepaskan budak, memberi makan orang lapar, anak yatim dan orang yang fakir miskin adalah jalan yang harus ditempuh sebelumnya.
Lantas, jika perbuatan itu tidak dilakukan, apakah sebuah gerakan islam tidak boleh menyeru ke islam? Tetap menyeru itu harus, namun paradigma gerakan islam juga harus diubah. Bukan hanya ‘menyeru’ an sich, namun bagaimana nilai aplikatif da’wah juga secara keseluruhan diaplikasikan.

Dan jika hak-hak rakyat terpenuhi, mungkin besoknya saya tak segan menyeret abang becak itu untuk menunaikan sholat di masjid.

Wallahu a’lam bishshowab

Senin, April 13, 2009

Islam..what do they want?

Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya

adalah Islam yang tinggal ahlaq, tanpa jihad,
adalah Islam yang tinggal ibadah, tanpa syari'ah,
adalah Islam yang boleh menyinari rumah-tangga,
namun bukan industri atau niaga,
adalah Islam yang boleh ada di masjid dan mushola, tapi bukan kantor pemerintah dan swasta,
adalah Islam yang boleh bicara tentang akherat,
tapi tidak tentang cara melayani rakyat,
adalah Islam yang diamalkan para pertapa shufi,
dan bukan para umara' yang peduli,
bukan alim ulama’ yang hati-hati,
bukan kaum aghniya' yang zuhdi
bukan pula mujahidin yang tak takut mati.
Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya
adalah Islam yang mengemis pada Barat,
bukan yang mampu menolong sendiri ummat,
di Bosnia, di Palestina, atau di Iraq,
di manapun ummat berkhidmat,
apalagi menolong dunia dari laknat,
future schock, disorientasi kehidupan,
kerusakan ekosistem, AIDS, narkoba,
dan kesewenang-wenangan kapitalis keparat.
Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya
adalah Qur'an dibacakan di masjid dan arena tilawah,
bukan di sidang kabinet atau mahkamah,
adalah Qur'an disampaikan ke orang mati atau sekarat,
bukan pada orang hidup yang sehat,
adalah Qur'an diajarkan di madrasah dan pesantren,
bukan di sekolah bisnis yang keren,
Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya
adalah Rasul sebagai panutan fatamorgana,
sedang selebriti kondang tetaplah idola,
bahkan terkadang Rasul pun sekedar,
tokoh historis yang juga bisa salah dan dosa.

Ya Allah, Islam seperti inikah yang kau janjikan sebagai rahmat bagi seluruh semesta?
Dan ummat seperti inikah yang Kau hadirkan sebagai yang terbaik ke tengah manusia?

Minggu, Maret 15, 2009

Semaoen dan saya

'Awas! Awas! Saudara-saudara, rukun, rukun....jangan seperti anak kecil. Ingatlah:
Durjana huru-hara, wong tani ditaleni. Jaman edan. Kaum buruh rukunlah! Rukun
membikin kuat dan kuat menambah selamat. Kaum buruh, kumpullah jadi satu!'
[Semaoen, 22 April 1918, Koran SI Semarang]
...
Saat tulisan itu diterbitkan, Semaoen masih berusia 14 tahun. Usia dimana kita masih
asik bermain bola, playstation, maupun dipenuhi dengan les. Semaoen, di usia 14 tahun
sudah menulis dengan guratan yang kuat akan refleksi dari realitas sosial di depan
matanya. Penindasan kolonial, wabah kelaparan, serta imperialisme terhadap bangsa
Indonesia oleh Kolonial telah menguatkan urat tulisannya.
Namun, saya pun sebenarnya sama, melihat berbagai macam imperialisme modern,
derap kapitalis yang semakin mantap, penggusuran dimana-mana, ketidakadilan mudah
ditemui, namun masih saja alur tulisan ini dingin, netral, dan tak berwarna. Padahal umur
hampir mencapai 22 tahun. Kebejatan pendidikan dan koran-koran yang brengsek telah
menidurkan syaraf naluri, telah mematikan fungsi peduli, dan sangat sukses meluluskan
saya menjadi orang-orang yang bebal terhadap realitas.
Pena saya hanya lancar jika berbicara tentang sang kekasih, selera makan, trend
handphone terbaru, gosip, ataupun curhat yang tidak penting, jauh, sangat jauh dari rasa
empati, sangat jauh dari peduli, dan sangat jauh dari prasyarat seorang pemuda yang
dieluk-elukan sebagai agent of change, calon pemimpin alternatif ketika orang-orang tua
telah terlikuidasi dari panggung yang tak seharusnya mereka berada disana.
Koran SI Semarang itu memuat tulisan seorang anak berusia 14 tahun, bukan memuat
roman picisan yang cengeng ala novel teenlit.
Maka, para imperialis domestik itu masih akan mengayun-ayunkan kaki di kursi
kekuasaan mereka masing-masing, karena pemuda seperti saya masih menjadi
mayoritas dari pemuda di negeri ini.